Menyusuri Karakter Nasionalisme Melalui Gaya Arsitektur Nusantara Masa Lampau

Masjid Kudus. Sumber gambar: wikipedia

Sebagai daerah yang sudah diakses oleh banyak orang dari banyak peradaban manusia sejak berabad-abad lalu, Nusantara memiliki banyak sekali keanekaragaman gaya arsitektur. Dari banyaknya budaya yang hadir dan mengakar dari berbagai penjuru tersebut, kita mengenal asimilasi yang akhirnya turut mempengaruhi bahkan menggantikan gaya arsitektur yang sudah ada sebelumnya di Nusantara.

Secara umum, kita dikenalkan pada tujuh generasi gaya arsitektur Nusantara yang juga diamini banyak orang. Didasarkan pada era ketika gaya arsitektur memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri, mulai dari zaman arsitektur vernakular, arsitektur era Hindu-Budha, arsitektur era kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, arsitektur masa kolonialisme, sampai arsitektur modern dan era kontemporer saat ini.



Pada zaman vernakular, kita mengenal budaya yang kental dengan segala macam gaya arsitektur original dari masing-masing daerah di Indonesia. Kita mengenal Jawa dengan rumah joglonya, rumah gadang yang kental dengan peradaban Minangkabau sampai rumah honai yang dipakai orang Papua sejak berabad silam.

Lalu masuknya ajaran Hindu-Budha mempengaruhi peradaban di Nusantara, termasuk gaya arsitektur di dalamnya. Pada masa ini, penggunaan batu yang dipahat sampai batu bata untuk kebutuhan rumah dan bangunan lainnya menjadi sangat dominan. Pun dengan sisa-sisa peradabannya yang masih bisa kita temui sampai saat ini, terutama pada bangunan candi-candi dan pura.

Pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam, kita mengenal banyak sekali bangunan bergaya arsitektur yang dipengaruhi ajaran agama yang dibawa dari Timur Tengah itu. Terutama bangunan-bangunan masjid sebagai tempat peribadatan yang sampai saat ini menjadi saksi bisu kejayaan peradaban masa lalu.

Pada era kolonialisme sampai dengan modern dan kontemporer, gaya arsitektur lebih banyak dipengaruhi aliran barat. Penggunaan kaca dan bahan bangunan beton pada gaya arsitektur era kolonial sampai dengan kontemporer juga menjadi penanda bahwa era arsitektur barat telah masuk dan mempengaruhi gaya arsitektur Nusantara.

Setelah itu, tidak banyak perubahan besar yang berarti, seperti apa yang pernah terjadi saat arsitektur bergaya Hindu-Budha menggeser peradaban vernakular sebelumnya. Atau ketika gaya arsitektur bergaya Hindu-Budha digeser (beberapa lainnya berasimilasi) arsitektur era kejayaan Islam.

 

Candi Prambanan, sebuah candi di era Hindu Nusantara. Sumber gambar: indoneo

Di saat-saat ini, hampir semua gaya arsitektur mengadopsi bahkan menekankan gaya yang bersumber dari barat. Segala sisi arsitektur adalah gaya barat/vitruvian.

Banyak yang menganggap bahwa gaya arsitektur Yunani Kuno sampai modern kontemporer yang dikenalkan dunia barat adalah arsitektur itu sendiri. Orang-orang membawa label ini sebagai sebuah aturan.

Belum lagi anggapan bahwa mereka yang dianggap sebagai arsitek adalah yang memilih kuliah di jurusan-jurusan arsitektur di institusi-institusi atau universitas-universitas. Mereka yang tidak tergabung dalam komunitas “terdidik” dan “terpelajar” ini hanya sebatas tukang saja.

Namun, dalam sebuah pertemuan virtual, Profesor Josef Prijotomo, Guru Besar Jurusan Arsitek Institut Teknologi Sepuluh Nopember menjelaskan hal yang bisa jadi jalan untuk kita mulai melirik kembali gaya arsitek Nusantara yang berkembang pada era sebelum masa kolonial.

Profesor Josef menjelaskan bahwasanya gaya arsitektur yang mengakar di Indonesia sejak masa kolonial adalah gaya barat/vitruvian. Artikel-artikel atau buku-buku referensi dan panduan mengenai arsitektur di sekolah-sekolah dan universitas pun tidak jauh berbeda. 

Di dalam buku-buku diktat lebih banyak memberi wawasan tentang gaya bangunan Yunani/Romawi Kuno, lalu menapaki gaya bangunan macam gothic, art deco sampai yang kemudian berkembang pada era modern dan pasca modern.

Padahal menurut Profesor Josef, pada dasarnya, langgam arsitektur yang berkembang di Nusantara berbeda pada saat-saat sebelum bangsa eropa menyambangi Nusantara. Gaya arsitektur pada era vernakular, era Hindu-Budha sampai era kejayaan Islam seharusnya memiliki level yang sama dengan gaya eropa pada masa yang sama.

Belum lagi pola pikir arsitektur gaya barat yang bertolak belakang dengan apa yang berkembang dan dirujuk sebagai gaya arsitektur. Hal yang sama juga terjadi ketika kita harus mengkomparasikan kedua gaya arsitektur ini dari pemahaman budaya.

Mungkin saja orang-orang barat akan kebingungan melihat gaya arsitek candi, pura atau gaya rumah di Nusantara yang memiliki keunikannya sendiri-sendiri.

H.K. Ishar (1995) memberi gambaran mengenai arsitektur dalam tiga komponen penting, fungsional, struktural lalu estetika. Bahwa untuk bisa dianggap sebagai karya arsitektur, sebuah bangunan harus memiliki tiga hal ini. Diamini oleh Profesor Josep melalui perandaian yang cukup unik dengan mengutip Nikolaus Prevsner, bahwa “sebuah gudang sepeda adalah sebentuk bangunan, sedangkan Lincoln Chatedral adalah sebuah bagian dari Arsitektur.”

Dengan jembatan yang sama, kita bisa melihat hampir semua hal yang masih bisa kita temui sebagai artefak atau warisan berupa sebentuk budaya sebagai arsitektur. Profesor Josep lebih senang menyebutnya dengan gaya arsitektur Nusantara.

Dari tiga hal yang dikemukakan H.K. Ishar di atas, kita tentu tidak boleh melewatkan detail kecil yang terdapat pada bangunan-bangunan kuno atau warisan budaya yang masih kita lihat atau bahkan gunakan sampai saat ini. 

Detail-detail dalam candi dan pura serta beberapa masjid era kejayaan Islam yang masih berdiri kokoh hingga saat ini misalnya.

Dalam bangunan-bangunan tersebut, selain pernah atau bahkan masih memiliki komponen fungsional (sesuai peruntukannya) serta struktural (sesuai gaya arsitekturnya) juga memiliki komponen estetika. Kita misalnya, masih bisa melihat paduan antara gaya arsitek Hindu dan Islam pada Masjid Kudus.

Hal yang sama, tentu juga masih ada dan berkembang sebagai warisan budaya arsitektur Nusantara dari masa lalu. Aksen ukiran, pahatan, ukuran presisi dan hal unik lainnya berkaitan dengan langgam arsitektur  yang sudah dikembangkan sejak masa lalu.

Biovarnish

Biovarnish

Biovarnish merupakan plitur kayu water based untuk eksterior dan interior, mudah dikuas dan bisa disemprot. Lengkap, aman, mudah, cepat, hemat. Plitur kayu water based ini hadir dalam varian produk sangat lengkap untuk menciptakan berbagai model finishing kayu, mulai dari wood filler, sanding sealer, wood stain (pasta), liquid stain, glaze, clear coat

Lihat Varian Biovarnish

%d bloggers like this: