Bioindustries

7 Kegagalan Menggunakan Lem Kayu untuk Bambu yang Wajib Dihindari

Menggunakan lem kayu untuk bambu tampak sederhana, tetapi kenyataannya, kesalahan kecil dalam proses perekat dapat mengakibatkan sambungan yang lemah dan produk furniture yang cepat rusak. Cek apa saja kegagalannya. 

Bambu semakin populer sebagai material furniture karena kekuatannya dan ramah lingkungan. Namun, banyak pengrajin atau pabrik furniture masih menggunakan lem kayu tanpa memahami risiko kegagalannya. 

Akibatnya, sambungan bisa retak atau lepas, dan lini produksi harus menanggung biaya tambahan. Hasil furniture pun akan berkurang bagus, strukturnya buruk, dan berisiko membahayakan penggunanya. 

Daripada menanggung kerugian, Anda sebaiknya simak dulu apa penyebab kegagalan yang terjadi saat menggunakan lem pada bambu agar bisa menghindarinya. 

7 Kesalahan dalam menggunakan lem kayu untuk bambu

Masih banyak kesalahan dalam aplikasi lem kayu pada furniture bambu yang jarang disadari. Berikut ini macam-macam kegagalan yang harus Anda perhatikan: 

1. Pemilihan lem yang tidak sesuai 

Tidak semua lem kayu cocok untuk bambu. Struktur bambu yang berongga dan porositas tinggi membuat lem kayu biasa sering gagal menempel secara optimal. Pemilihan lem yang salah bisa menyebabkan sambungan retak, lepas, atau cepat aus. 

Bagi Anda yang ingin memproduksi furniture bambu, sebaiknya gunakan lem untuk bambu atau lem kayu berkualitas tinggi. Cirinya adalah lem dirancang khusus untuk menahan tekanan dan kelembapan. 

2. Persiapan permukaan yang kurang tepat

Bambu memiliki lapisan lilin alami dan debu halus yang dapat menghambat daya rekat lem. Mengabaikan persiapan permukaan, seperti mengamplas ringan atau pembersihan, akan mengurangi kekuatan sambungan. 

Persiapan permukaan yang tepat sangat penting agar lem menempel dengan tepat dan sambungan lebih tahan lama. Jadi, sebaiknya setelah Anda memotong bambu, segera bersihkan dengan amplas dan lap agar bersih. 

3. Penggunaan lem yang berlebihan

Terlalu banyak mengaplikasikan lem dengan harapan agar bisa menempel dengan kuat, justru bisa menimbulkan efek buruk. Sambungan bambu meluber, merusak finishing, dan memperlambat proses pengeringan. 

Sebaliknya, jika Anda menggunakan terlalu sedikit lem maka akan membuat sambungan melemah. Sebaiknya, gunakan lem secara merata dan secukupnya, sesuai kebutuhan sambungan bambu. 

Baca Juga: Jenis-jenis Lem Kayu yang Paling Kuat dan Tahan Lama untuk Furniture

4. Mengabaikan kadar air bambu 

Kelembapan bambu memengaruhi daya rekat lem. Bambu yang terlalu basah membuat lem sulit menempel, sedangkan bambu yang terlalu kering dapat menyerap lem secara berlebihan dan membuat bambu menjadi rapuh. 

Standar kelembapan bambu yang ideal seharusnya kurang lebih 12%-15%, agar bisa menjaga kualitas sambungan dalam produksi skala bisnis. Ada baiknya juga jika Anda membeli bambu yang kelembapannya ideal sehingga tidak repot mengeringkan sendiri. 

5. Tekanan atau penjepitan yang tidak memadai 

Kegagalan selanjutnya adalah pada saat Anda melakukan penjepitan selama proses pengeringan. Tanpa penjepitan yang cukup, lem tidak akan menempel sempurna, dan sambungan bisa retak bahkan lepas. 

Dalam produksi furniture bambu, penggunaan klem khusus industri atau tapi penjepit yang sesuai standar sangat dibutuhkan. Dengan begitu lem kayu untuk mebel bambu merekat kuat dan hasil sambungannya selalu konsisten. 

6. Waktu pengeringan tidak sesuai 

Ketika lem dirasa kering, Anda bisa melepaskan semua penjepit, tapi pastikan dulu jika waktunya sudah tepat. Membuka sambungan terlalu cepat sebelum lem mengering sempurna akan merusak sambungan dan mengurangi kekuatan struktural. 

Setiap jenis lem memiliki waktu curing tertentu, dan penting bagi Anda untuk mengikuti petunjuk tersebut. Tujuannya agar hasilnya, lem kering sempurna dan setiap sambungan bambu tahan lama. 

7. Tidak mempertimbangkan lingkungan penggunaan

Bambu yang digunakan untuk furniture outdoor atau area lembap membutuhkan lem yang tahan air. Mengabaikan faktor lingkungan dapat menyebabkan sambungan mudah rusak, konsumen klaim garansi, dan merugikan reputasi bisnis. 

Pastikan lem yang digunakan sesuai dengan kondisi penggunaan akhir produk. Anda bisa juga memilih jenis lem yang aman seperti PVAC yang tidak mengandung toxic dan mengeluarkan aroma menyengat.  

Tips efektif memilih lem untuk bambu 

Salah satu kegagalan yang masih sering terjadi adalah salah menggunakan jenis lem yang tepat. Bisa karena Anda mempertimbangkan harga lem bambu yang murah demi menekan biaya produksi. 

Padahal, tidak masalah jika Anda menggunakan lem yang harganya sedikit mahal, tapi memberikan jaminan kualitas. Untuk membantu Anda menemukan lem yang tepat, beberapa tips berikut bisa menjadi perhatiannya:

1. Memilih lem yang sesuai karakteristik bambu 

Bambu memilih permukaan keras, porositas rendah, serta lapisan lilin alami. Karena itu, tidak semua lem kayu bisa menempel dengan baik. Untuk hasil yang kuat, Anda bisa menggunakan lem PVAC atau lem polyurethane. 

Kedua lem tersebut dirancang secara khusus untuk menempelkan dua bidang yang porositasnya rendah seperti bambu. Termasuk juga jika permukaannya seperti serat alam, baik itu kayu, bambu, bahkan rotan. 

2. Perhatikan kekuatan daya rekatnya

Dalam produksi furniture, kekuatan sambungan adalah faktor yang utama. Pilihlah lem yang menawarkan daya ikat tinggi agar sambungan mampu menahan beban, tekanan, dan pemakaian jangka panjang. 

Anda juga bisa menggunakan lem dengan sertifikasi standar industri yang biasanya lebih bisa diandalkan untuk kebutuhan produksi massal. 

3. Mempertimbahkan ketahanan terhadap air dan cuaca

Jika produk bambu ditujukan untuk outdoor atau area lembap, pilih lem yang tahan air dan tahan cuaca. Dengan bantuannya, sambungan bambu tidak akan mudah rapuh, retak, atau terlepas akibat paparan kelembapan. 

4. Menyesuaikan dengan waktu curing produksi 

Untuk memenuhi kebutuhan produksi furniture, kecepatan tentu sangat memengaruhi efisiensi. Anda bisa mengecek tingkat kecepatan curing lem untuk bisa memenuhi kebutuhan produksi massal dengan target tertinggi.

Jika ingin memproduksi furniture yang memerlukan presisi ekstra, maka waktu curing yang lebih lama diperlukan. Sesuaikan kembali waktu kuring dengan jenis proyek yang akan Anda kerjakan. 

5. Evaluasi kemudahan aplikasi 

Membeli lem tidak hanya sekedar membaca informasi yang tertera pada kemasan, tapi juga mencobanya langsung. Dengan percobaan, Anda bisa mengevaluasi kemudahan aplikasinya.

Beberapa faktor yang bisa dipastikan kembali adalah kemudahan lem untuk diratakan, apakah teksturnya terlalu kental atau cair, serta tidak meninggalkan noda pada finishing. Faktor ini penting untuk menjaga estetika produk bambu. 

6. Menghitung efisiensi biaya 

Hal yang juga tidak boleh Anda lewatkan adalah menghitung biaya produksi yang signifikan. Pilih lem dengan rasio harga terhadap performa terbaik. Bukan sekedar mencari yang murah, tapi paling efisien, kuat, tahan lama, dan meminimalkan risiko produk gagal. 

Dari banyak pilihan produk, Anda bisa menggunakan lem Crossbond X3 untuk sambungan konstruksi bambu. Terbuat dari bahan inner cross linker atau PVAC modifier yang cepat kering, daya tahan terhadap air, solvent, dan panas, sangat tinggi. 

Dengan menggunakan lem kayu untuk bambu Crossbond X3, Anda bisa mengejar waktu produksi sekaligus memenuhi kebutuhan kualitasnya. Semua ketahanannya akan menjaga struktur bambu tetap awet sepanjang tahun, bahkan untuk penggunaan outdoor. 

Dapatkan lem Crossbond X3 sekarang juga dengan klik banner di bawah ini. Anda juga bisa berkonsultasi dengan tim Bio untuk menemukan berbagai kebutuhan pengeleman sekaligus finishing bambu yang aman.

tanya cs bio
Hotline dan Konsultasi