Bioindustries

Mengupas Potensi Kayu Sungkai untuk Industri Furniture di Tahun 2026

Kayu sungkai jadi primadona di tahun 2026 ini karena sifatnya yang kuat, kokoh, serta ketersediaannya yang melimpah. Berbagai furniture dari meja, kursi, hingga rak selalu mengandalkan sungkai pada tahun 2026 ini.

Industri furniture di Indonesia terus berkembang hingga tahun 2026 seiring pertumbuhan sektor properti dan pasar ekspor. Persaingan yang semakin ketat mendorong produsen untuk lebih selektif dalam desain dan pemilihan material.

Kayu masih menjadi bahan utama dalam industri furniture, namun preferensi pasar mulai bergeser dari kayu premium ke alternatif yang lebih ekonomis dan berkelanjutan. Perubahan ini membuka peluang bagi jenis kayu non premium untuk lebih dimanfaatkan.

Inilah yang membuat sungkai mulai menarik perhatian karena warna cerah, serat alami, dan kemudahan pengolahan. Karakter ini menjadikan sungkai relevan untuk mendukung tren furniture modern dan minimalis di tahun 2026.

Mengenal kayu sungkai lebih dekat

Sungkai berasal dari pohon Peronema canescens yang banyak tumbuh di wilayah Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Persebaran sungkai cukup luas, meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa bagian barat dan tengah. 

Pohon sungkai tumbuh relatif cepat dan dapat dibudidayakan, sehingga berpotensi menjadi bahan baku yang berkelanjutan bagi industri furniture. 

Secara fisik, sungkai memiliki karakteristik yang khas dan mudah dikenali. Beberapa karakteristik utama kayunya antara lain:

  • Warna kayu cenderung terang, mulai dari kuning pucat hingga cokelat muda.
  • Serat kayu lurus hingga sedikit berpadu, memberikan tampilan alami dan bersih.
  • Tekstur kayu halus hingga sedang. 
  • Berat jenis sedang, tidak terlalu berat namun cukup kokoh. 
  • Stabilitas kayu cukup baik untuk penggunaan interior.
  • Mudah dipotong, dibentuk, dan disambung. 
  • Responsif terhadap berbagai jenis finishing

Warna dan Serat Kayu

Warna terang pada sungkai menjadi daya tarik utama, terutama untuk desain furniture modern. Serat kayunya yang halus dan tidak terlalu kontras memberikan kesan rapi dan elegan. 

Karakter ini membuat sungkai cocok digunakan dalam desain yang menonjolkan kesederhanaan dan kesan natural.

Tingkat Kekerasan dan Kepadatan

Dari segi kekerasan, sungkai tergolong kayu dengan tingkat kekerasan sedang. Kepadatannya berada di bawah kayu jati, tapi masih cukup kuat untuk kebutuhan furniture interior seperti meja, kursi, lemari, dan rak. 

Sifat ini menjadikan sungkai lebih ringan dan mudah dipindahkan, sekaligus tetap fungsional untuk penggunaan jangka menengah hingga panjang. 

Jika dibandingkan dengan kayu populer lainnya, sungkai memiliki karakter yang berbeda. Kayu jati dikenal sangat keras, tahan cuaca, dan bernilai tinggi, namun harganya relatif mahal. 

Kayu mahoni menawarkan serat indah dan warna kemerahan, tetapi cenderung lebih berat. Sementara kayu mindi memiliki bobot ringan, tapi seratnya tidak selalu seragam. 

Sungkai berada di posisi tengah, menawarkan keseimbangan antara estetika, kekuatan, kemudahan pengerjaan, dan harga yang lebih terjangkau.

Baca Juga: Furniture Minimalis Jadi Primadona 2026! Ini Tren Desain yang Paling Banyak Dicari

Keunggulan sungkai untuk furniture

Sungkai memiliki sejumlah keunggulan yang menjadikannya relevan untuk industri furniture di tahun 2026.

1. Tampil estetik untuk desain modern dan minimalis

Warna terang dan serat halus sungkai sangat mendukung konsep desain modern, minimalis, hingga Japandi yang menekankan kesan bersih dan natural.

2. Bobot ringan tapi kuat

Berat sungkai relatif ringan, sehingga memudahkan proses produksi dan distribusi. Meski demikian, kekuatannya cukup memadai untuk furniture interior.

3. Proses pengerjaan relatif mudah

Sungkai mudah dipotong, dipahat, dan dirakit, sehingga menghemat waktu dan biaya produksi bagi pengrajin maupun pabrik furniture.

4. Menawarkan daya serap finishing yang baik

Permukaan sungkai mampu menyerap cat, melamin, atau coating natural dengan baik, menghasilkan tampilan akhir yang rapi dan merata.

5. Bernilai ekonomis dibanding kayu premium

Dari sisi harga, sungkai lebih terjangkau dibanding kayu jati atau kayu keras lainnya, sehingga membuka peluang produksi furniture dengan harga kompetitif.

Tren industri furniture 2026 dan peran kayu sungkai

Tren desain furniture tahun 2026 menunjukkan dominasi gaya minimalis, natural, Scandinavian, dan Japandi. Konsumen semakin menyukai furniture dengan bentuk sederhana, warna cerah, serta material yang menonjolkan keaslian alam.

Kayu berwarna terang menjadi pilihan utama karena mampu menciptakan suasana ruang yang hangat dan lapang. Permintaan furniture berbahan kayu terang juga meningkat, baik di pasar domestik maupun ekspor. 

Sungkai memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan tersebut, terutama untuk produk furniture interior. Di pasar ekspor, furniture berbahan kayu sungkai mulai diminati karena tampilannya yang netral dan mudah dipadukan dengan berbagai konsep interior global.

Produsen furniture di tahun 2026 dituntut untuk beradaptasi dengan cepat terhadap selera konsumen. Penggunaan kayu sungkai menjadi salah satu bentuk adaptasi tersebut, baik melalui inovasi desain, peningkatan kualitas finishing, maupun pengembangan produk yang lebih fungsional dan ramah lingkungan.

Aplikasi kayu sungkai dalam produk furniture 2026 

Kayu sungkai semakin luas diaplikasikan dalam berbagai produk furniture interior. Karakteristiknya yang fleksibel memungkinkan kayu ini digunakan pada berbagai jenis furnitur dengan pendekatan desain yang beragam.

Penggunaan kayu sungkai pada furniture interior meliputi:

1. Meja dan kursi

Kayu sungkai sering digunakan untuk meja makan, meja kerja, dan kursi karena bobotnya ringan namun tetap stabil. Finishing natural atau matte semakin menonjolkan keindahan serat kayu.

2. Lemari dan kabinet

Warna cerah kayu sungkai cocok untuk lemari pakaian, kabinet dapur, maupun kabinet penyimpanan, terutama pada hunian bergaya modern dan minimalis.

3. Rak dan panel dekoratif

Rak dinding, panel TV, hingga partisi ruangan berbahan kayu sungkai banyak digunakan untuk memberikan sentuhan natural tanpa kesan berat.

Selain digunakan secara tunggal, kayu sungkai juga sering dikombinasikan dengan material lain seperti besi, rotan, dan kaca. 

Kombinasi dengan besi menciptakan kesan industrial modern, rotan menghadirkan nuansa tropis dan alami, sementara kaca memberikan sentuhan elegan dan ringan. 

Contoh konsep desain furniture berbahan kayu sungkai antara lain meja makan bergaya Scandinavian, rak minimalis dengan rangka besi hitam, serta kabinet Japandi dengan finishing natural.

Tantangan dan keterbatasan kayu sungkai 

Di balik potensinya, kayu sungkai juga memiliki beberapa tantangan yang perlu diperhatikan.

1. Tingkat ketahanan cuaca dan lembap yang rendah

Kayu sungkai kurang cocok untuk penggunaan eksterior tanpa perlakuan khusus.

2. Penting untuk finishing untuk perlindungan tambahan

Proses finishing menjadi faktor krusial untuk meningkatkan daya tahan terhadap jamur dan kelembapan.

3. Minimnya persepsi positif masyarakat pada kayu non premium

Sebagian konsumen masih menganggap kayu selain jati sebagai pilihan kelas dua.

4. Strategi untuk menghadapi kelangkaan kayu sungkai

Pengelolaan hutan dan budidaya berkelanjutan perlu dikembangkan agar pasokan tetap stabil.

Kayu sungkai memiliki potensi besar untuk industri furniture di Indonesia, terutama di tahun 2026 yang ditandai dengan dominasi desain modern dan natural. Keunggulan dari sisi estetika, kemudahan pengerjaan, serta nilai ekonomis menjadikan sungkai sebagai alternatif yang kompetitif bagi produsen furniture. 

Dengan strategi pengolahan yang tepat dan inovasi desain berkelanjutan, sungkai diprediksi semakin berperan penting dalam industri furniture. Perannya diperkirakan terus berkembang di pasar domestik dan ekspor setelah tahun 2026.

tanya cs bio
Hotline dan Konsultasi