Mengenal Jenis Substrat Alam Untuk Furniture dan Cara Pengawetan Kayu - Bioindustries

Mengenal Jenis Substrat Alam Untuk Furniture dan Cara Pengawetan Kayu

Mengenali jenis substrat alam yang digunakan untuk bahan baku furniture beserta cara pengawetan kayu dan substrat alam lainnya sangat penting untuk mencegah potensi kerugian karena ketidakpahaman jenis dan sifat bahan baku.

jamur black stain

Model furniture dari jaman ke jaman terus berkembang mengikuti perubahan gaya hidup di jaman berjalan. Di masa lalu, furniture seringkali dibuat dengan sangat memperhatikan bahan bakunya. Harapannya furniture tersebut bisa awet hingga anak cucunya kelak.

Sehingga seringkali kita menemukan furniture berbahan kayu kelas 1 untuk tingkat keawetannya. Bahkan cara pengawetan kayu sebagai bahan baku furniture sangat diperhatikan.

Dari sisi desain, perkembangan model atau desain furniture sangat terpengaruhi dari perkembangan budaya manusia di jaman tersebut. Misalnya saja di era jaman sekarang kita lebih mengenal furniture bergaya minimalis. Memang hingga saat ini model klasik tetap mendapatkan tempat di kalangan penggemar furniture klasik, namun umumnya sudah disesuaikan atau dimodifikasi ukuran maupun desainnya mengikuti ukuran ruangan saat ini.

Jika dilihat dari jenis substrat yang digunakan, kita bisa kategorikan tiga jenis substrat yang seringkali digunakan untuk furniture di Indonesia. Diantaranya substrat alam, substrat olahan dan substrat sintetis.

Secara umum produksi furniture menggunakan salah satu jenis substrat saja. Namun ada juga yang menggunakan kombinasi dua atau bahkan tiga jenis substrat sekaligus. Bahkan terkadang masih menggunakan tambahan bahan lainnya untuk memperkuat kesan estetikanya.

Baca juga : Tips dan Cara Mengawetkan Kayu Mahoni dengan Baik dan Benar

Jenis-Jenis Substrat Alam Untuk Bahan Baku Furniture

Indonesia kaya akan bahan alam. Berbagai jenis substrat alam terhasilkan dari berbagai jenis tumbuhan yang hidup di sekitar kita. Ada yang terhasilkan dari tanaman budidaya, ada pula yang tinggal mengambil langsung dari alam. Diantaranya adalah kayu, bambu, rotan dan serat alam.

Kayu

Kayu merupakan jenis substart yang paling banyak digunakan di industri furniture maupun handicraft Indonesia. Mengapa demikian? Ternyata kayu banyak digunakan karena memiliki berbagai keunggulan dibanding jenis substrat alam lainnya. Diantaranya :

  1. Mudah diperoleh di seluruh wilayah Indonesia, sehingga menjamin ketersediaannya. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia sebagian besar wilayah daratan tertutup oleh hutan.
  2. Tersedia dalam berbagai jenis kayu dan berbagai ukuran. Secara umum, kayu digolongkan dalam tiga kategori, yaitu kayu keras (kayu ulin,kayu jati, kayu bengkirai, dll), kayu sedang (kayu mahoni, kayu meranti), kayu lunak (kayu cemara, kayu pinus, kayu balsa).
  3. Kayu relatif lebih mudah diproses. Baik dengan cara dipotong, dipahat, dibuat tekstur, diukir, dan berbagai jenis perlakuan lainnya.
  4. Harga relatif lebih murah. Walaupun untuk jenis-jenis kayu berkualitas tinggi tentu saja harganya juga menyesuaikan.

Sebelum menggunakan kayu sebagai bahan furniture, sangat disarankan untuk mengetahui sifat-sifat kayu. Semakin detail kita mengetahui sifat-sifat kayu yang akan digunakan, maka kita akan semakin tahu bagaimana perlakuan yang tepat terhadap kayu tersebut.

Dengan memahami jenis dan sifat kayu, semakin mudah untuk memprosesnya. Bagaimana proses pengawetannya dan bagaimana proses yang tepat untuk mengolahnya bisa kita rencanakan.

Bahkan bagaimana proses finishingnya, dimana tempat yang tepat untuk meletakkannya setelah jadi furniture, dan bahkan bagaimana proses perawatannya setelah menjadi barang jadi juga bisa direncanakan secara lebih detail.

Baca juga : sifat bambu dan rotan yang perlu Anda ketahui

Lantas, apa saja sifat-sifat kayu yang perlu diperhatikan?

  1. Berat dan berat jenis kayu. Berat jenis kayu akan mempengaruhi kekuatan kayu. Dengan mengetahui berat jenis kayu kita bisa menentukan jenis kayu yang tepat sesuai dengan kebutuhan kita. Misalnya saja, untuk meja kafe atau meja restoran, tentu kita membutuhkan jenis kayu yang kuat karena termasuk heavy duty. Sedangkan untuk meja tamu atau coffee table, kita cukup menggunakan jenis kayu dengan kekuatan sedang.
  2. Kandungan zat dalam kayu, misalnya kandungan getah dan minyak. Jenis kayu jati dan mahoni memiliki kandungan getah yang bisa mempengaruhi hasil finishing. Sehingga kita perlu memikirkan bagaimana caranya agar getah tersebut tidak naik pada saat kayu sudah difinishing.
  3. serangan rayap pada kayuTingkat keawetan kayu. Setiap kayu memiliki tingkat keawetan yang berbeda-beda. Yang dimaksud dengan keawetan kayu adalah kemampuan kayu bertahan dari unsur-unsur perusak kayu dari faktor eksternal. Diantaranya serangan jamur, serangga perusak kayu, dan organisme perusak kayu lainnya. Kayu memiliki sejenis zat yang membuat kayu terasa tidak enak bagi organisme perusak kayu.
  4. Warna kayu. Warna asli kayu berbeda-beda, namun secara umum warna kayu adalah perpaduan dari warna coklat, merah, kuning, hijau, hitam, dengan tingkat kepekatan yang berbeda-beda.

Baca juga : ciri ciri warna Silica Gel Yang Baik Untuk Menyerap Kelembaban

Bambu

Bambu merupakan salah satu jenis substrat yang sering digunakan sebagai bahan baku furniture maupun handicraft. Bambu banyak ditemukan di negara-negara Asia, termasuk di Indonesia. Ketersediaannya yang melimpah memberikan jaminan bahan baku saat digunakan sebagai bahan baku furniture maupun handicraft.

Yang perlu diperhatikan, bambu memiliki kulit yang cukup licin dan keras. Sehingga perlu jeli dalam memilih bahan finishing. Selain itu, bambu juga rentan terserang jamur maupun serangga. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan proses pengawetan sebelum bambu digunakan.

Baca juga : tips dan trik agar pagar bambu awet dan tahan lama

Rotan

Selain kayu dan bambu, substrat alam lainnya yang cukup melimpah ketersediaannya di alam Indonesia adalah rotan. Tumbuhan merambat ini bisa dengan mudah ditemukan di hutan tropis wilayah Asia tenggara, termasuk Indonesia.

Rotan dikenal sebagai jenis substrat yang kuat, ulet, lentur, mudah dibentuk, dianyam, maupun dipilin. Secara umum, furniture rotan dibuat dalam bentuk kulitan dan fitrit (sudah dibuang kulitnya). Ada juga yang memanfaatkan batang rotan kecil atau rotan yang sudah dibelah kecil-kecil.

Seperti halnya bambu dan kayu, rotan juga rentan dengan serangan jamur maupun serangga. Sangat disarankan untuk melakukan pengawetan, baik dengan menggunakan obat pengawet mapun dengan cara pengawetan tradisional. Selain itu, sangat direkomendasikan untuk mengaplikasikan bahan finishing, paling tidak coating, untuk memperlama masa pakai furniture atau handicraft berbahan rotan.

Serat Alam

Serat alam sekarang ini menjadi salah satu alternatif substrat alam yang bisa digunakan, baik untuk furniture maupun handicraft. Beberapa jenis serat alam yang mudah ditemukan di Indonesia dan berlimpah ketersediannya adalah enceng gondok (water hyacinth), serat pisang (banana fibre), seagrass, abaca.

Yang perlu diperhatikan dari penggunaan serat alam adalah prosesnya yang cukup rumit. Mulai dari penebangan, pengumpulan, pengeringan, pengawetan bahan, proses menganyam, dan proses finishing. Proses tersebut harus dilakukan secara cermat, mengingat serat alam sangat rentan terhadap serangan jamur dan serangga.

Cara Pengawetan Kayu, Bambu dan Serat Alam Yang Efektif

Seperti telah disinggung sebelumnya, substrat kayu, bambu dan natural fiber rentan terhadap faktor biodegradation seperti serangan serangga, jamur dan bakteri. Oleh karena itu sangat penting untuk melakukan proses pengawetan terhadap substrat bambu, kayu dan natural fiber sebelum digunakan.

Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa perlu melakukan pengawetan kayu, pengawetan bambu maupun pengawetan serat alam. Berikut tiga alasan utama perlunya melakukan pengawetan terhadap substrata lam seperti kayu, serat alam maupun bambu.

  1. Supaya awet dan tahan lama. Jika tidak dilakukan proses pengawetan, substrat alam sangat mudah untuk terserang bakteri, serangga dan jamur. Sehingga mudah lapuk.
  2. Untuk meningkatkan nilai ekonomis. Proses pengawetan akan meningkatkan nilai ekonomis barang jadi (furniture/handicraft).
  3. Memenuhi regulasi mobilisasi dan karantina barang. Proses pengawetan membantu memenuhi regulasi dalam mobilisasi dan karantina barang antar wilayah.

Ada beberapa jenis jamur dan serangga yang perlu kita waspadai. Diantaranya jamur perusak substrat, jamur perusak warna substrat, jamur permukaan, kumbang bubuk, rayap, semut, serangga perusak kayu. Jamur akan tumbuh apabila syarat tumbuhnya jamur terpenuhi. Diantaranya MC substrat di atas 20%, RH sekitar 50%, material organik, substrat kotor berdebu, dll.

Bagaimanakah Cara Pengawetan Kayu, Bambu dan Rotan?

Obat Anti Jamur dan Obat Anti Serangga

Obat Anti Jamur dan Obat Anti Serangga

Untuk menghindari akibat serangan jamur dan serangga pada substrat alam, perlu dilakukan tindakan pencegahan. Lantas, langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah serangan jamur dan serangga pada substrat alam?

Berikut alternatif cara yang bisa digunakan:

  1. Lakukan improve pada kelembaban substrat. Upayakan agar MC substrat kurang dari 20%. Selain itu lakukan improve pada system pengeringannya. Upayakan pula agar RH kurang dari 50%. Kontrol kelembaban ruangan dengan ventilasi. Gunakan humidity absorbent seperti silica gel dan Be Dry.
  2. Lakukan pencegahan dengan aplikasi obat anti jamur. Pastikan untuk menggunakan obat anti jamur yang efektif, misalnya saja menggunakan produk BioCide Wood Fungicide. Produk ini terbukti efektif untuk mencegah serangan jamur pada substrat alam, baik pada kayu, bambu ataupun serat alam. Untuk jenis jamur permukaan, bisa menggunakan BioCide Surface Film Preservative untuk pencegahan.
  3. Lakukan pencegahan dengan cairan pengawet kayu atau obat anti serangga. Sebaiknya aplikasikan obat pencegah serangan serangga sejak kayu masa tebang (dalam bentuk glondongan), bentuk sawn timber, dan saat kayu sebelum finishing. Karena kita tidak pernah tahu kapan saat serangga menyerang dan menetaskan telurnya. Dengan pencegahan bertahap, harapannya semakin kecil kemungkinan kayu terserang serangga seperti rayap, kutu bubuk, dan berbagi jenis serangga perusak kayu lainnya. Anda bisa menggunakan BioCide Insecticide untuk mencegah serangan serangga pada substrat kayu, bambu ataupun serat alam.

Ada banyak cara pengawetan kayu, bambu maupun serat alam yang bisa diaplikasikan selain cara-cara di atas. Baik cara-cara tradisional maupun cara-cara yang lebih modern. Namun yang terpenting adalah pengawetan ini sangat penting untuk dilakukan. Anda bisa memilih cara aplikasi sesuai dengan alat yang dimiliki.

Dengan melakukan proses pengawetan, baik dengan cara aplikasi obat anti jamur, obat anti serangga maupun dengan menggunakan penyerap lembab di ruangan gudang, diharapkan substrat alam bisa terhindar dari kerusakan. Dengan begitu, kerusakan pasca barang jadi bisa diminimalisir pula.

Untuk informasi produk dan cara pengawetan kayu, pengawetan bambu dan pengawetan serat alam seperti di atas, silahkan kontak no hotline kami di 0822-4338-0001. Atau bisa datang langsung ke Bio Service Point di Jogja, Jepara dan Cirebon.

Artikel ini mendapat rating 2 bintang dari total 526 orang responden
%d bloggers like this: