Pengawetan Kayu dan Bambu dengan Sistem Penebangan

pengawetan kayu bambu dan sistem penebangan

Pengawetan kayu, bambu dan rotan dapat dilakukan dengan pendekatan sistem management pengendalian proses penebangan, untuk mendapatkan kualitas baik.

Pengaruh sistim managemen penebangan terhadap pengawetan kayu

Pengawetan kayu, bambu dan rotan dapat dilakukan dengan pendekatan sistim management pengendalian proses penebangan, hal ini dilakukan untuk mendapatkan kwalitas hasil produk kayu, bambu, dan rotan yang relatif awet anti serangga, anti rayap, anti pinhole, anti jamur dan berbagai factor perusak alami lainnya.

“Secara prinsip pendekatan management penebangan ini dilakukan untuk meng-optimalisasi kerapatan serat atau dencity kayu, bambu atau rotan serta untuk meminimalisasi kandungan nutrisi kayu lainnya”

Menurut Kollmann dan Cote (1968) (Haygreen.J.G, 1987) sebagian besar komponen kimia kayu terdiri dari lignin dan polysakarida (selulosa dan hemiselulosa). Secara sederhana, Lignin dapat dikatakan sebagai komponen utama pembentuk serat kayu sedangkan polysakrida dapat disebut sebagai “nutrisi” kayu yang juga disukai oleh serangga dan media tumbuhnya jamur kayu.

Pada dasarnya secara umum industri kayu membutuhkan kekuatan dan kekerasan yang dibentuk oleh kadar kepadatan serat kayu, baik yang akan digunakan untuk bahan baku industri furniture maupun sebagai komponen struktur bangunan.

Proses penebangan merupakan proses awal pengolahan kayu , pengendalian sistem penebangan / pemanenan pohon kayu, bambu, rotan serta berbagai jenis bahan serat alam lainya perlu dilakukan untuk mendapatkan kerapatan dan kepadatan serat kayu optimal dan dengan kandungan nutrisi minimal.

Pengawetan kayu, 3 hal yang perlu diperhatikan dalam proses penembangan kayu, bambu dan rotan

  1. Usia pohon siap tebang
  2. Masa / waktu penebangan
  3. Cara penebangan

Usia pohon siap tebang

Pohon yang akan ditebang atau dipanen harus memenuhi sarat usia yang cukup untuk ditebang. Dengan demikian kayu yang dihasilkan telah mencapai volume pembentukan serat kayu yang optimal.

Pohon yang masih terlalu muda belum mencapai titik optimal dalam proses produksi serat kayu, disamping itu kandungan nutrisi kayu yang akan digunakan untuk proses pertumbuhan pohon lebih lanjut masih sangat tinggi, dengan demikian kwalitas kayu yang dihasilkan lebih rentan terhadap serangan serangga kayu maupun jamur serta berbagai factor perusak alami alaiinya.

Masa / waktu penebangan

Masa / waktu atau musim penebangan sangat menentukan kwalitas kayu yang akan dihasilkan. Secara umum penebangan pohon dilakukan pada akhir musim kemarau memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilakukan pada musim penghujan.

Hal ini sangat mudah dipahami secara sederhana, pada musim penghujan akar-akr pohon aktive menyerap nutrisi untuk pertumbuhan dan menyimpan sebagaian sebagai cadangan untuk bertahan hidup pada musim kemarau, sedangkan pada musim kemarau sistem metabolisme pohon akan menyerap cadangan nutrisi yang telah tersimpan selama musim penghujan.

Dengan demikian Jika penebangan dilakukan pada akhir musim penghujan akan menghasilkan kayu dengan kadar nutrisi maximal sehingga rentan terhadap serangan serangga, jamur dan factor perusak lainnya dan begitu pula sebaliknya, jika penebangan dilakukan pada akhir musim kemarau kwalitas daya tahan dan keawetan kayu relative lebih baik.

Pohon bambu dan rotan memiliki akar rimpang, dimana tunas rebung tumbuh setiap tahunmasa penebangan yang tepat memiliki pengaruh sangat signifikan terhadap kwalitas daya tahan atau keawetan bambu.

Secara detail pengaruh masa tebang bambu terhadap keawetan bambu akan dibahas pada artikel berikutnya.

Cara penebangan

Pernahkan anda perhatikan hutan jati yang dikelola perhutani, dimana pohon jati yang telah siap tebang tampak mengering dan jika kita perhatikan dibagian bawah dekat pokok batang pohonnya tampak kulit kayunya dikelupas ?

Itulah salah satu cara perhutani sebelum proses penebangan /panen kayu jati dilakukan. Cara ini dilakukan dengan salah satu tujuan untuk mengurangi komposisi nutrisi kayu dalam rangka mendapatkan kwalitas / mutu kayu jati terbaik.

Dengan mengelupas kulit kayu sampai bagian dibawah lapisan kambium, maka akar tidak lagi aktip mengirimkan nutrisi ke batang pohon, sedangkan cadangan nutrisi yang terkandung didalam batang pohon akan terserap habis oleh proses metabolisme pohon untuk mempertahankan hidupnya sampai batas minimum dan akhirnya mati dan mengering secara berlahan.

Cara ini juga dapat dilakukan untuk jenis-jenis kayu yang lain untuk mendapatkan kwalitas kayu terbaik.

 

Artikel ini mendapat rating 4 bintang dari total 456 orang responden
%d bloggers like this: