Serat Bambu, Rotan dan Natural Fiber Membutuhkan Lapisan Coating Lebih Fleksibel dari Kayu

handmade enceng gondok, kerajinan enceng gondok  Lapisan coating sebagai finishing pada serat bambu, rotan, dan natural fiber seperti enceng gondok, serat pandan, serat pelepah pisang dll tidak seperti lapisan coating pada kayu.   Bambu, rotan, dan natural fiber  mempunyai substrate mirip kayu tetapi struktur serat, kerapatan serat dan flexibilitas serta sifat fisik lainnya berbeda dengan serat kayu pada umumnya. Untuk itu dibutuhkan bahan finishing coating yang berbeda pula untuk mendapatkan hasil finishing terbaik sesuai dengan tujuan dasar finishing yaitu melindungi (preservatif) dan memperindah (estetic). Bahan water based coating sangat tepat digunakan untuk mendapatkan keindahan serat,  yang terpenting bahan yang digunakan ramah lingkungan dan berkualitas karena berbahan dasar air.

Taukah Anda jika lapisan coating pada serat bambu, rotan, dan natural fiber lebih fleksibel dari kayu? Mari kita tilik alasan mengapa serat bambu, serat rotan, dan serat natural fiber sangat fleksible.

– Struktur serat bambu dan rotan berbeda dengan serat kayu

Substrate daging Bambu, Rotan dan beberapa jenis serat alam seperti eceng gondok, serat daun pandan, serat pelepah pisang dan lain lain mempunyai struktur arah serat lurus sejajar dan rapat dengan pori-pori tabung terbuka di ujung batang. Berbeda dengan serat kayu yang memiliki struktur arah serat saling silang dengan pori-pori terbuka horisontal, vertikal maupun diagonal.

Karena struktur arah serat kayu bambu dan natural fiber yang sejajar dan dengan permukaan hampir tanpa pori-pori, maka dibutuhkan bahan finishing dengan ukuran partikel lebih kecil dan daya rekat lebih kuat.

– Serat bambu, rotan dan natural fiber lebih fleksibel  dari kayu

Karena struktur arah serat yang sejajar maka serat bambu dan rotan serta bahan natural fiber lainnya memiliki sifat fleksibilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kayu yang arah seratnya saling-silang.

Karena kelebihan material bambu dan rotan yang memiliki sifat fleksibilitas tinggi maka dibutuhkan lapisan coating yang fleksibel pula sehingga dapat mengikuti gerak dinamika flexibilitas media dibawahnya.

– Apa yang terjadi jika lapisan coating bambu dan rotan tidak se-flexible medianya ?

Pernahkan anda mendengar bunyi “kretek kretek” ketika kursi anyaman bambu atau rotan anda duduki ? itu adalah bunyi lapisan coating yang pecah atau lepas dari medianya. Jika selembar anyaman bambu atau rotan yang telah difinishing dengan bahan finishing kayu baik NC atau Melamin misalnya, lalu anda tekuk atau goyang dibawah sinar lampu maka anda biasanya akan dapat melihat serpihan lapisan coating itu rontok lepas dari medianya.

Ini membuktikan bahwa “media fleksibel membutuhkan lapisan film fleksibel pula”

Jika lapisan film coatingnya “getas” sementara daya rekatnya masih cukup kuat menempel pada media fleksibel, bisa jadi lapisan filmnya hanya akan pecah atau robek tidak sampai rontok.

– Apa yang terjadi jika lapisan coatingnya hanya pecah atau retak rambut (hair line cracking) saja ?

Lapisan film coating punya fungsi utama sebagai pelindung substrate dari berbagai faktor kerusakan baik akibat dari atifitas cuaca maupun dari aktifitas bio organisme seperti serangga teter, rayap, jamur, bakteri  pembusuk dan lain sebagainya.

Jadi jika lapisan coating (jaket) pelindungnya pecah atau robek maka lapisan jaket pelindung tersebut tidak lagi dapat memberi proteksi dari kelembaban udara, sepora jamur, penetrasi telur serangga dan berbagai ancaman faktor perusak media lainnya.

 

Artikel ini mendapat rating 5 bintang dari total 289 orang responden
%d bloggers like this: